Efektifitas Iklan Caleg dan Stressnya Para Caleg

Teman saya Citra pernah ingin menulis mengenai komunikasi kampanye para caleg, tetapi sepertinya ia terlalu sibuk  menangani iklan salah satu partai yang cukup gencar di TV. Daripada menunggu saya lebih baik menulis pendapat saya mengenai iklan partai dan caleg dalam pemilu 2009 ini, walaupun dengan data dan info seadanya mumpung pemilu baru saja lewat 3 hari.

Masyarakat sempat dibingungkan dengan begitu banyaknya iklan partai dan caleg yang memenuhi media termasuk pohon-pohon di jalan.  Jadi pertanyaan sebenarnya akan pilih  caleg atau partai?

Iklan di media terbagi atas iklan partai dengan tokoh utamanya dan iklan para caleg dari masing-masing partai.

Iklan partai dan tokohnya tentunya menggunakan media-media besar dan dengan frekuensi yang cukup tinggi karena dukungan biaya yang cukup besar dari partai dalam hal ini bisa dana pribadi maupun  para donatur partai.

Namun iklan caleg, mayoritas berupa billboard, poster, spanduk dan sticker baik yang terpampang besar di jalan-jalan sampai poster2  kecil di pohon-pohon. Biayanya dari mana, konon sebagian besar dari kantong sang caleg sendiri, bahkan bisa saja dari utang.

Menjelang pelaksanaan pemilu banyak prediksi bahwa para caleg akan menjadi stress bahkan gila karena tidak sanggup menerima kekalahan. Ternyata benar juga prediksi tersebut, malam setelah pemilu para caleg mulai terlihat stressnya, di media mulai terdengar caleg yang stress bahkan meninggal dunia.

Beban mental para caleg bisa dipahami, uang  ratusan juta yang dikeluarkan dari kantong sendiri terbuang tanpa hasil.

Lalu salahnya dimana bukankah dalam setiap pertarungan memang pasti ada yang kalah dan menang jadi kenapa harus terlalu stress, kan sudah risiko, mungkin masyarakat awam akan mengomentari demikian.

Namun hal apa yang paling membuat manusia menjadi stress selain sekedar malu tidak menang, yaitu kehilangan uang dengan percuma.  Uang para caleg terbuang karena kampanye mereka, artinya kampanye mereka gagal dan tidak efektif serta janji-janji dan ekspetasi keberhasilan yang terlalu tinggi.

Mungkin para caleg terlalu pede melihat iklan diri sendiri tanpa mau tahu iklan orang lain yang menjadi kompetitornya, serta  kebutuhan dan kebiasaan masyarakat yang menjadi targetnya. Mungkin juga para caleg terpengaruh oleh provoke atau halusnya saran para pebisnis iklan selama periode pemilu. Para caleg tidak tahu bahwa di iklan ada pakem dan prosesnya.

Hal dasar di dunia iklan ketika beriklan adalah melakukan analisa terhadap diri sendiri, kompetitor dan target. Sehingga dapat dengan tepat mengambil strategi bagaimana berperang di tengah keramaian perang dan bagaimana mencari jalan lain kalau memang tidak mampu. Terbukti tidak  gampang mempengaruhi seseorang apalagi dalam kategori pemilu banyak sekali faktor yang harus dipertimbangkan. komentar beberapa orang, iklan Gerindra saja yang jor joran hanya mendapat 4.7 %..data quick count.

Jadi tidak cukup hanya sekedar narsis..:)

Menjadi pertanyaan  berapa %  uang  caleg tersedot oleh kampanye iklan ?

Next analisa iklan Gerindra dan Hanura.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s