Belajar dari Iklan Pemilu Legislatif – Iklan Gerindra

Pemilu legislatif telah usai dengan hasil yang masih banyak dipertanyakan. Dari sisi dunia periklanan terutama media banyak hal yang dapat dipelajari sekaligus menjadi studi kasus dan referensi.

Salah satu yang dapat dipelajari adalah iklan yang cukup gencar dari partai Gerindra dan iklan Prabowo sebagai pemimpinnya.

Beberapa bulan sebelum pemilu Gerindra dan Prabowo sudah beriklan dengan frekeunsi yang tinggi, menjelang pemilu apalagi, frekuensi beriklan semakin gencar dengan menampilkan berbagai content kreatif yang sesuai dengan kondisi paling update.

Perolehan suara 4.4 % bagi Gerindra  hasil sementara perhitungan KPU dan reaksi dari partai dan Prabowo menunjukkan kekecewaan dari pihak Gerindra, yang juga terjadi dengan beberapa partai lainnya yang merasa dirugikan.  Lepas dari kekecewaan karena  dugaan adanya kecurangan dalam pemilu  reaksi ini menyatakan bahwa seandainya tidak ada kecurangan maka perolehan suara partai yang protes termasuk Gerindra akan lebih tinggi.

Sebagai orang iklan saya menilai bahwa pihak Gerindra sangat percaya diri dengan komunikasi yang mereka lakukan selama ini akan membantu memberikan suara yang lebih dari yang diperoleh sekarang.  Targetnya berapa secara angka saya tidak tahu tetapi saya menganalisa  target yang ingin diraih adalah angka suara yang tidak usah membuat Gerindra di posisi yang sulit untuk berkoalisi dengan partai2 lainnya. Saat ini Gerindra sepertinya masih di posisi yang sulit untuk mengusung Prabowo sebagai Presiden RI.

Iklan yang gencar, frekuensi yang tinggi dan pesan yang sangat percaya diri dengan program yang jelas dan memihak rakyat kecil ditayangkan di media televisi, cukup memperoleh perhatian bagi masyarakat luas. Sebagai partai yang baru Gerindra telah  dikenal tidak hanya di kota-kota besar saja, tetapi masyarakat di kota-kota kecil, beberapa orang yang saya temui ketika awal iklan Gerindra mengudara menyatakan tertarik pada  Gerindra bukan hanya pada iklannya saja. Cukup mengherankan buat saya karena waktu itu  karena Gerindra baru saja “launching“. Dari fakta ini  kita dapat menarik kesimpulan bahwa ternyata pengaruh iklan besar dan cepatsetidaknya masih besar pengaruhnya terutama iklan dari media televisi, karena saat ini banyak klien-klien yang mempertanyakan efektifitas iklan di televisi.

Namun hasil perolehan suara 4.4% tadi apakah sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan dibandingkan dengan misalnya Hanura yang tidak segencar Gerindra di media  namun perolehan angka suaranya tidak jauh dari Gerindra, yang  estimasi belanja iklannya lebih dari Rp. 50 miliar. Jawabannya adalah tergantung dari tujuannya,  kalau tujuannya hanya lolos parliementary tres hold, maka iklan Gerindra berhasil, kalau tujuannya lebih dari itu seperti ulasan saya di atas maka iklan Gerindra belum cukup kuat untuk membuat masyarakat menyontreng Gerindra.  Namun menjadi pertanyaan kembali apakah untuk lolos tres hold harus  mengeluarkan biaya senilai di atas, atau apakah semua biaya harus dihabiskan hanya untuk media TV,  suratkabar dan media lainnnya yang hanya searah?

Ketika meluncurkan iklan suatu produk, saat ini tidak cukup hanya sekedar mengkomunikasikan mengenai produk secara satu arah atau sepihak dari produk saja, tetapi sangat diperlukan bagaimana konsumen bisa bersentuhan langsung, merasakan produk yang ditawarkan. Media-media mainstream seperti televisi, surat kabar dan lainnya adalah media-media yang sifatnya membawa pesan dimana produk dan konsumen hubungannya masih jauh, hanya lebih kepada mengetahui keberadaan produk dan janji benefit. Televisi adalah media yang dapat menyampaikan pesan secara cepat dan massal, sampai saat ini masih cukup kuat di Indonesia, namun apakah cukup hanya dengan media ini saja?

Dengan semakin banyaknya persaingan produk maka perlu sekali sebuah produk menjadi yang terawal diketahui melalui media dan paling awal bersentuhan dengan konsumen. Sama halnya dengan iklan-iklan partai yang tahun ini penuh persaingan dengan hadirnya 38 partai, persaingan menjadi lebih ramai, diperlukan berbagai cara untuk menarik perhatian masayarakat yang pada akhirnya mau membeli dalam hal ini menyontreng.

Sebagai pendatang baru Gerindra terlalu banyak berkomunikasi searah, dan ini cukup membuat masyarakat tertarik, tetapi hal ini belum cukup membuat banyak masyarakat mau membeli. Yang kurang dilakukan oleh Gerindra adalah pengenalan terhadap Gerindra di on ground bukan di udara, masih sangat kurang sentuhan sang produk dengan masyarakat sebagai targetnya. Sosok Prabowo sebagai pemimpin juga hanya lebih banyak dikenal melalui iklan, baru pada saat-saat menjelang pemilu Prabowo muncul dan setelah pemilu dalam nuansa kekecewaan.

Prabowo dan Gerindra seharusnya lebih mengoptimalkan integrated media communication, melirik media online lebih aktif dan melakukan lebih banyak kampanye on gorund yang merata jauh-jauh hari sebelum pemilu bersamaan dengan kampanye TV yang gencar, daripada menghabiskan uang sekian miliar di TV lebih baik dananya sabagian diaktifkan untuk kampanye on ground, perlu penggerakan kader-kader Gerindra dalam kelompok-kelompok kecil di tengah-tengah masyarakat, bagaimana  supaya masyarakat dapat merasakan secara nyata janji-janji di TV akan terwujud, merasakan sosok Prabowo yang dekat dengan masyarakat,  sosok yang peduli pada masyarakat sosok yang bangga pada negara kesatuan RI, dan menghapus semua image negatif  sehingga tidak akan ada komentar “itu kan cuma iklan.” Selamat berjuang!

One thought on “Belajar dari Iklan Pemilu Legislatif – Iklan Gerindra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s