Channel dan Edukasi dalam Pilpres

Wawancara dengan Prabowo Subianto Sabtu malam 23 Mei’09 di TV  One, menjelaskan program-program yang diyakini mampu mengubah kehidupan bangsa Indonesia menjadikan ekonomi bangsa menjadi ekonomi yang berdaulat alias tidak hidup dan menjadi budak utang asing.

Bagi saya pemirsa TV, setuju dengan visi tersebut lepas dari realistis atau tidak.  20 tahun yang lalu, ketika guru kursus Inggris saya memberi pertanyaan kepada siswa kelas kami, apakah yang hendak kami nyatakan ke pemerintah saat ini. Giliran saya menjawab saya katakan bahwa saya akan serukan ke pemerintah untuk stop bangun gedung2 tinggi karena waktu itu saya berpikir ada yang rusak dengan pembangunan ini. Tentunya kami harus jawab dalam bahasa Inggris karena konteksnya adalah kursus bahasa Inggris, waktu itu guru kami seorang bule. By the way saat ini  saya belum menjadi pendukung Prabowo.

Setelah 20 tahun ternyata pemikiran saya  terbukti juga, dari wawancara tesebut disebut bahwa 59 juta hektar lahan hutan rusak dan pasti ada hubungannya dengan pembangunan gedung2 tadi walaupun mungkin tidak secara langsung.

Seharusnya  saat kampanye para kandidat menggunakan media massa menjelaskan dengan sistematis program-program secara jelas, latar belakang program, keyakinan terhadap program, dan bagaimana mereliasasikannya. Sebagai contoh ketika ditanya oleh presenter apakah program yang diajukan Prabowo dengan membuka 2 juta lahan, 12 juta tenaga kerja dengan investasi yang sama  dimana kandidat lain hanya menghasilkan 400 rb adalah realistis? Dengan gesture yakin dan natural Prabowo keheranan dengan pertanyaan tersebut mengatakan kenapa tidak realistis asalkan semua mau berusaha, dan bekerja keras tentunya, setuju sekali.

Ditayangkan di TV One  diskusi yang bagus seperti itu tentunya masih kurang menjangkau mayoritas masyarakat yang seharusnya dan berhak mengetahui informasi yang sangat bagus dan penting dari wawancara tersebut.

Team sukses Mega-Prabowo harus membuat perpanjangan tangan, Prabowo yang selama ini hampir tidak pernah berbicara ke masyarakat apalagi Ibu Mega harus lebih sering menyampaikan visinya, share the value melalui kelompok kecil, sedang dan besar  di masyarakat.

Saat ini stepnya adalah menjelaskan program secara jelas kepada semua kelompok masyarakat dari bawah ke atas jangan hanya berbicara melalui iklan yang pasif. Kalaupun menggunakan iklan, saatnya iklan adalah hanya supporting yang utama adalah kampanye yang telah disebutkan di atas, apalagi  sekedar bentuk2 entertainment sebaiknya dikurangi porsinya namun bukan berarti dihilangkan sama sekali.

Semua channel sebaiknya digunakan, kalaupun iklan tetap jadi primadona untuk menghadang kandidat lainnya  yang aktif beriklan, isinya seharusnya adalah high campaign in programs  dengan pendekatan yang tepat  untuk masing-masing level.

By Vika 17

One thought on “Channel dan Edukasi dalam Pilpres

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s