Kematian majalah?

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah majalah wanita, sebuah majalah lifestyle, tiba-tiba saya merasakan bahwa majalah ini bisa saya baca dengan cepat sekali alias isinya kurang dalam, baik gambar maupun tulisannya. Minggu berikutnya saya baca lagi dan saya dapati isinya sangat padat, saya bertanya ada apa kali ini, oh ternyata  kali ini adalah edisi spesial ulang tahun.

Saya teringat pada dosen saya dulu yang pernah mengingatkan “Daripada kalian beli majalah lebih baik beli buku!” “Buku pelajaran tentunya, “kalau majalah isinya langsung habis kalau buku, isinya dalam dan berguna sampai nanti .” Begitu kata dosen saya waktu itu, intinya yang saya tangkap, daripada buang-buang uang beli majalah dan mengabaikan buku pelajaran lebih baik prioritaskan beli buku dulu. Walaupun waktu itu saya agak tidak setuju karena saya banyak dapat ilmu dari majalah. Hampir semua majalah saya baca di akhir tahun 90an sampai awal 2000, waktu itu majalah belum terlalu banyak, belum banyak hadir majalah franchise seperti saat ini. Saat itu saya paling suka kalau dapat majalah wanita dari luar negeri , terutama majalah lifestyle, fashion , craft dan decor.

Sebenarnya perkataan dosen saya itu sudah mulai saya rasakan juga ada benarnya beberapa tahun lalu, kadang saya menganggap majalah isinya kok itu-itu saja, berulang terus terutama majalah lifestyle, tetapi sebelum kehadiran dunia digital majalah tetap menjadi sumber informasi dan inspirasi yang sangat menarik dan penting buat saya.

Tapi saat ini ketika telah terterpa dengan media digital, majalah terasa sedikit  isinya. Kalau di majalah bisa lihat hanya beberapa gambar untuk inspirasi maka dari media digital untuk thema yang sama bisa dapat jauh lebih banyak gambar dan dari berbagai macam sumber bisa dikonsumsi dengan cepat, mudah dan murah.

Mengingat data mengatakan bahwa pengguna internet di Indonesia semakin menggila, terutama kalangan muda , dimana habit mereka untuk mendapatkan informasi dan berinteraksi ada di dunia digital, rasanya majalah akan semakin ketinggalan untuk beberapa hal jika dibandingkan dengan media digital.

Majalah harus mencari konsep supaya tetap bisa berguna dan dibutuhkan oleh pembacanya dan akan bersaing dengan media digital terutama merebut perhatian kaum muda.

by Vika17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s