Tiba-tiba saja pemirsa TV khususnya infotainment dikejutkan dengan berita perseteruan Luna Maya dengan wartawan infotainment. Perseturuan yang dimulai dengan pernyataan yang dianggap merendahkan insan wartawan di jejaring sosial pribadi yang saat ini menjadi media massa di dunia maya, artinya media yang dapat dikonsumsi oleh ribuan orang dalam waktu yang cepat.
Sebagai pekerja di dunia komunikasi saya tertarik membahas hal ini dari sisi komunikasi terutama komunikasi marketing. Dari sisi komunikasi bahwa seorang artis yang biasanya menjadi obyek yang diberitakan kini dengan era web 2 secara tidak sadar sudah mempunyai media sendiri dan dapat membuat berita sendiri mengenai dirinya dan hal-hal yang dialaminya melalui jejaring sosialnya dan menyebarkannya ke masyarakat luas.Terlepas dari isi beritanya namun menarik diperhatikan bahwa sang artis dalam hal ini bertindak sebagai wartawan bagi dirinya sendiri sepertinya berbalik bahwa biasanya sang artis diberitakan hal yang baik atau buruk, kali ini sang wartawan lah yang menjadi isi berita oleh sang artis.
Walaupun disayangkan bahwa isi beritanya adalah sebuah penghinaan namun karena itulah maka menjadi heboh dan menyadarkan kita insan pengguna komunikasi dan pekerja di bidang komunikasi bahwa sedang terjadi pergeseran dalam dunia komunikasi dan sekali lagi bukti betapa kuat dampak sebuah media jejaring sosial. Apakah media ini akan menggeser media massa konvensional seperti televisi dan program-programnya?
Saat ini siapapun dapat menjadi obyek berita, berita baik maupun berita tidak baik bahkan profesi sang pembuat berita menjadi terkejut mendapati bahwa seorang artis yang selama ini menjadi obyek berita dapat membuat berita dan menyebarkannya ke masyarakat dalam hal ini berita yang mengagetkan para pembuat berita infotainment.
Mendengar berita-berita di infotainment sabagai kelanjutan kasus ini bahwa dikatakan antara wartawan dan artis saling membutuhkan, dimana sang artis membutuhkan eksposure untuk menjadi terkenal dan akhirnya mendapat job diantaranya menjadi bintang iklan sebuah brand atau produk tertentu dan di sisi lain wartawan membutuhkan berita dari artis untuk dapat ditayangkan di programnya.
Jika sang artis saat ini berseteru maka karirnya akan terancam karena tidak akan mendapat dukungan eksposure dari media lagi lalu karirnya akan meredup dan pada akhirnya akan kehilangan job termasuk tidak lagi menjadi bintang iklan dari brand atau produk yang saat ini atau yang akan menggunakannya sebagai bintang iklan.
Apakah betul sesederhana itu lingkarannya, atau apakah betul tidak ada faktor atau pihak penentu lain dalam lingkaran ini?
Saya ingin membahasnya hanya berkaitan dengan komunikasi marketing sebuah brand atau produk yang menggunakan artis sebagai bintang iklannya.
Seorang artis digunakan oleh sebuah brand atau produk sebagai bintang iklan adalah melalui proses seleksi oleh para insan marketing dalam sebuah perusahaan yang akan beriklan dan juga oleh insan periklanan dari advertsing agency pembuat konsep, menggarap dan menayangkan iklan tersebut. Faktor penentu seleksi tentunya adalah terutama karena prestasi positif, popularitas, figurnya yang baik, image positif, sikap koperatif sang artis juga faktor penting dipilihnya seorang artis.
Popularitas adalah salah satu penentu, seorang artis karena sering mendapat eksposure maka akan semakin dikenal, namun faktor ini bukanlah penentu utama. Banyak artis yang sering diekspose tetapi tetap saja tidak masuk dalam kriteria oleh sebuah brand menjadi bintang iklan, namun banyak juga artis yang sudah tidak mendapat eksposure yang tinggi dari media tetapi tetap dipercaya oleh brand, sebagai contoh Christine Hakim, jika dibandingkan dengan artis2 baru secara ekposure media sudah berkurang tetapi karena prestasinya tetap digunakan oleh brand sebagai bintang iklan dan masih banyak contoh lainnya.
Namun memang eksposure yang pas diakui sangat membantu seorang artis untuk naik dan dikenal oleh masyarakat, namun harus diingat semua kembali ke artis tersebut sebagi produk yang akan disukai atau tidak oleh masyarakat, apakah punya prestasi atau tidak, memberikan kontribusi positif dalam kehidupan masyarakat. Over exposure juga terkadang membuat image yang tidak baik dan bahkan penolakan masyarakat.
Artis yang punya prestasi, bersuara bagus, berakting baik, bersikap baik dan disukai masyarakat punya nilai berita yang tinggi. Nilai berita tinggi sehingga mereka dikejar oleh wartawan, untuk menjadi berita. Mengapa demikian, karena dengan menayangkan artis tersebut maka akan menarik penonton televisi, dan akibatnya ketika penonton banyak maka nilai program tersebut akan naik yang diukur dari TVR program tersebut. Ketika TVR program tesebut tinggi maka akan banyak iklan yang masuk, artinya pemasukan program tersebut meningkat. Demikianlah iklan adalah salah satu cara menghidupi program-program televisi termasuk program infotainment. Apalagi saat ini semakin banyak program infotainment yang bersaing, sehingga setiap TV bersaing mendapat berita yang paling baru dan paling unik.
Jika iklan sedikit yang masuk ke sebuah program maka tidak sedikit program yang harus di matikan karena dianggap tidak mendapat keuntungan.
Bisa saja terjadi sebuah iklan yang sedang menggunakan Luna Maya sebagai bintangnya tidak memasang iklannya di program-program infotainment dikarenakan berita-berita yang terlalu buruk mengenai sang artis yang sedang mengusung iklan brand atau produk tersebut, apalagi jika hubungan antara sang artis cukup baik dengan brand atau produknya. Jadi tidak selalu terjadi brand atau produk akan menarik sang artis sebagai bintang iklan karena masih banyak faktor lain untuk memutuskan tidak menggunakan lagi sang artis, bukan sekedar karena didak diekspose lagi oleh wartawan infotainment, apalagi jika masyarakat yang semakin pintar dan saat ini dapat mengakses informasi dari banyak sumber seperti jejaring sosial, punya penilaian lain yang berbeda dengan penilaian wartawan, masyarakat tidak mutlak menyetujui bahwa sang artis yang salah, bahkan mereka merupakan fans berat dan pendukung setia sang artis, apalagi kasihan terhadap artis yang diidolakannya.
Ada faktor lain dalam komunikasi marketing dimana pemilihan program untuk beriklan oleh sorang media planner dan marketing brand bahwa selain TVR tinggi juga faktor kualitas program dan faktor image. Image bahwa sebuah program adalah program yang pantas bagi brand, jika sebuah program terlihat arogan atau hal buruk lainnya, membawa image yang buruk terhadap brand, bisa saja program tersebut juga menjadi pilihan kesekian dalam urutan sebagai media untuk beriklan.
by Vika17


