Advertising Media Planning

Integrated Marketing Communication

29 October 2009 · Leave a Comment

Integrated marketing communication adalah bagian dari kegiatan marketing yang timbul dikarenakan kebutuhan dari produk untuk mengkomunikasikan diri kepada target audience atau konsumennya.

Suatu produk diciptakan atau diproduksi dengan suatu tujuan marketing yaitu  umumnya produk  laku dipasaran.

Untuk mencapai tujuan ini tentunya harus dilakukan usaha dan beberapa proses sebelum mencapai tujuan di atas.

Menurut  Jerome Mc Carthy (1964) bahwa ada 4 elemen penentu keberhasilan produk di pasar,  yaitu dikenal dengan teori 4 P (Product, Price, Place & Promotion)

Dalam usaha mencapai tujuan ini salah satu usaha yang dilakukan bahwa produk tersebut harus dikenal oleh konsumennya. Untuk dikenal maka produk harus melakukan komunikasi dengan target audience atau konsumennnya.

Kegiatan berkomunikasi ini masuk dalam salah satu elemen 4P dalam teori Mc Carthy yaitu bagian promotion.

Advertising,  Personal Selling,  Sales Promotion,  Public Relation( PR), Event, Word of  Mouth adalah cara-cara yang digunakan untuk berpromosi atau berkomunikasi dengan target audience atau konsumen. Cara berkomunikasi akan berkembang terus seiring dengan perubahan yang terjadi di masyarakat, bagaimana pola hidup masyarakat  akan mempengaruhi cara-cara yang akan digunakan dalam melakukan komunikasi atau berpromosi.

Masing-masing kegitan promosi di atas juga sangatlah luas dan mempunyai banyak cara. Diperlukan ilmu khusus untuk menangani setiap cara berpromosi atau berkomunikasi.  Diperlukan ilmu dan keahlian yang spesifik untuk menangani advertising begitupula Personal Selling, PR dan lain-lain. Untuk mendapatkan keahlian ini juga perlu pendidikan, pengalaman, waktu dan tentunya usaha untuk belajar terus, karena itu semua  kegiatan komunikasi  ini akhirnya tidak dapat ditangani oleh hanya satu orang  atau satu grup saja, tetapi akan memerlukan beberapa orang atau beberapa grup bahkan perusahaan yang ahli di masing-masing bidang, ada yang ahli di bidang advertising, ahli di personal selling, ahli di sales promotion,  dan lain-lain.

Advertising :

Adalah bentuk komunikasi melalui iklan, dimana sifatnya menginformasikan mengenai produk dan persuasif. Informasi ditentukan dan dibuat oleh pengiklan dengan bantuan advertising agency. Iklan dipasang di media-media sesuai tujuan dan strategi dengan melakukan pembelian ruang iklan di media-media.

Personal Selling :

Adalah kegiatan melakukan kontak langsung dengan konsumen dalam hal ini orang yang diyakini akan membeli produk dengan cara melakukan penawaran yang aktif dan  proses follow up sampai konsumen akhirnya setuju untuk membeli.

Sales Promotion :

Adalah kegiatan yang dilakukan melalui  penawaran-penawaran yang khusus, misalnya beli 1 dapat bonus 1 dan lain-lainnya.

Public Relation :

Adalah komunikasi yang dilakukan oleh media melalui pendekatan dari pengiklan namun penulisan di media adalah didominasi oleh media  dan tidak adanya pembelian seperti pada advertising

Event :

Adalah kegiatan di tempat-tempat tertentu menghampiri konsumen dengan melakukan berbagai macam kegiatan yang disukai atau dibutuhkan oleh konsumen. Melalui kegiatan ini lah produk dapat menginformasikan keberadaannya kepada konsumen. Misalnya melakukan acara musik di lapangan  atau di gedung, melakukan acara nonton bareng, melakukan acara  perlombaan dan lain-lain.

Kapan dan bagaimana masing-masing kegiatan ini dilakukan semua tergantung pada kebutuhan dan kondisi produk.

Belum tentu semua kegiatan komunikasi harus dilakukan untuk suatu prosuk tertentu. Kadang-kadang hanya diperlukan advertising saja atau PR saja atau malah diperlukan semuanya.

Word of Mouth:

Adalah cara berkomunikasi bagaiman sehingga produk menjadi bahan pembicaraan dan direkomendasikan oleh orang-orang yang sudah menggunakan kepada orang-orang yang belum menggunakan.

Word  of mouth kadang terjadi di luar kontrol oleh produk tetapi hal ini juga bisa diciptakan, apalagi kalau produknya memang bagus.

by Vika17

→ Leave a CommentCategories: Artikel Media
Tagged: , , , , ,

Bagaimana mengestimasi kegiatan kompetitor

11 October 2009 · Leave a Comment

Bagaimana mengetahui apa yang akan dibuat oleh kompetitor khususnya kegiatan beriklan di media?

Bukan hal yang mudah mengestimasi kegiatan kompetitor apalagi banyak faktor yang berubah dari tahun ke tahun.

Pertama tentukan tujuan hal apa saja yang perlu diketahui, misalnya media apa yang digunakan, periode, bobot beriklan, bentuk-bentuk dalam beiklan dan berapa budgetnya.

Dibantu oleh data,umumnya dipelajari pola beriklan dari tahun ke tahun setidaknya  3-5 tahun terakhir. Biasanya periode ini akan membantu memperlihatkan apakah ada pola tertentu.

Pelajari perubahannya, apakah ada peubahan media yang digunakan, mengapa?

Pelajari kenaikan dan penurunan bobot beriklan, misalnya di televisi berapa total GRPs (TARPs) setiap tahun apakah ada pola kenaikan atau penurunan.

Pelajari pola iklan setiap minggu, kapan waktu yang digunakan kompetitor untuk beriklan, adakah minggu atau bulan tertentu.

Pelajari peta beriklan di setiap kota, apakah ada penekanan untuk kota-kota tertentu.

Setelah bobot iklan dapat diestimasi misalnya sekian GRPs untuk tahun depan, maka biaya dapat diestimasi yaitu dengan mengestimasi kenaikan harga setiap tahunnya dan menghitung kenaikan harga dan kenaikan bobot.

→ Leave a CommentCategories: Artikel Media

Era Web 2.0

23 July 2009 · 1 Comment

Memasuki era web 2.0 era dimana para pengguna web menjadi penggerak dari web itu sendiri,  para pengguna dapat membuat sendiri web, membuat design mereka sendiri dengan mudah, dapat mengupdate informasi dan berkomunikasi antara pengguna web dengan sangat mudah.

Generasi web yang baru ini membuat semakin marak dan mempercepat pertumbuhan populasi kehidupan di dunia internet.

Berbagai ragam kehidupan bermunculan di dunia internet, semakin maraknya bisnis,  penjualan online baik pribadi maupun institusi,  ajang pertemanan, edukasi dan lain-lain

Hal ini membuat semakin sering internet di akses dan menjadi kebutuhan hidup bagi sebagian orang, kebutuhan sebagai media untuk berkomunikasi, mendapat informasi ataupun berkarya dan memberi informasi secara cepat, mudah dan berbagai pilihan private maupun terbuka.

Iklan dan media beriklan juga akhirnya dapat dibuat sendiri bagi para pengiklan sekaligus para pengguna, sehingga dengan biaya yang rendah pun seseorang seharusnya bisa sukses berpromosi namun semua kembali pada kemauan, kemampuan mengambil peluang dan kerja keras.

→ 1 CommentCategories: Digital
Tagged: , ,

Channel dan Edukasi dalam Pilpres

25 May 2009 · Leave a Comment

Wawancara dengan Prabowo Subianto Sabtu malam 23 Mei’09 di TV  One, menjelaskan program-program yang diyakini mampu mengubah kehidupan bangsa Indonesia menjadikan ekonomi bangsa menjadi ekonomi yang berdaulat alias tidak hidup dan menjadi budak utang asing.

Bagi saya pemirsa TV, setuju dengan visi tersebut lepas dari realistis atau tidak.  20 tahun yang lalu, ketika guru kursus Inggris saya memberi pertanyaan kepada siswa kelas kami, apakah yang hendak kami nyatakan ke pemerintah saat ini. Giliran saya menjawab saya katakan bahwa saya akan serukan ke pemerintah untuk stop bangun gedung2 tinggi karena waktu itu saya berpikir ada yang rusak dengan pembangunan ini. Tentunya kami harus jawab dalam bahasa Inggris karena konteksnya adalah kursus bahasa Inggris, waktu itu guru kami seorang bule. By the way saat ini  saya belum menjadi pendukung Prabowo.

Setelah 20 tahun ternyata pemikiran saya  terbukti juga, dari wawancara tesebut disebut bahwa 59 juta hektar lahan hutan rusak dan pasti ada hubungannya dengan pembangunan gedung2 tadi walaupun mungkin tidak secara langsung.

Seharusnya  saat kampanye para kandidat menggunakan media massa menjelaskan dengan sistematis program-program secara jelas, latar belakang program, keyakinan terhadap program, dan bagaimana mereliasasikannya. Sebagai contoh ketika ditanya oleh presenter apakah program yang diajukan Prabowo dengan membuka 2 juta lahan, 12 juta tenaga kerja dengan investasi yang sama  dimana kandidat lain hanya menghasilkan 400 rb adalah realistis? Dengan gesture yakin dan natural Prabowo keheranan dengan pertanyaan tersebut mengatakan kenapa tidak realistis asalkan semua mau berusaha, dan bekerja keras tentunya, setuju sekali.

Ditayangkan di TV One  diskusi yang bagus seperti itu tentunya masih kurang menjangkau mayoritas masyarakat yang seharusnya dan berhak mengetahui informasi yang sangat bagus dan penting dari wawancara tersebut.

Team sukses Mega-Prabowo harus membuat perpanjangan tangan, Prabowo yang selama ini hampir tidak pernah berbicara ke masyarakat apalagi Ibu Mega harus lebih sering menyampaikan visinya, share the value melalui kelompok kecil, sedang dan besar  di masyarakat.

Saat ini stepnya adalah menjelaskan program secara jelas kepada semua kelompok masyarakat dari bawah ke atas jangan hanya berbicara melalui iklan yang pasif. Kalaupun menggunakan iklan, saatnya iklan adalah hanya supporting yang utama adalah kampanye yang telah disebutkan di atas, apalagi  sekedar bentuk2 entertainment sebaiknya dikurangi porsinya namun bukan berarti dihilangkan sama sekali.

Semua channel sebaiknya digunakan, kalaupun iklan tetap jadi primadona untuk menghadang kandidat lainnya  yang aktif beriklan, isinya seharusnya adalah high campaign in programs  dengan pendekatan yang tepat  untuk masing-masing level.

By Vika 17

→ Leave a CommentCategories: Artikel Media

Edukasi Dalam Kampanye Pilpres

25 May 2009 · Leave a Comment

Edukasi  Dalam  Kampanye Pilpres

Seandainya ada pelelangan Negara mungkin kita sudah  menjadi objeknya atau bahkan lebih menyedihkan lagi jika ada penjara bagi Negara maka mungkin Negara kita akan menjadi salah satu penghuninya, mengapa demikian? Karena mungkin suatu waktu nanti Negara kita tidak akan mampu membayar utang yang harus dibayar trilliunan setiap tahun  baik bunga dan pokoknya.

Bisa dipahami tidak usah Negara, kita saja misalnya pernah terjebak dengan utang kartu kredit, untuk melunasinya penghasilan kita habis untuk hutang sedangkan untuk hidup sehari2 bagaimana? Jalan gampangnya terima tawaran dari kartu kredit lainnya untuk lunasi hutang pertama supaya biaya hidup sehari2  tetap ada, tetapi tidak sadar artinya kita berhutang lagi, apalagi kalau gaya hidup kita tetap tidak berubah tetap tidak realistis, yakin, hutang akan semakin berlipat.

Jalan lain adalah tidak terima tawaran kartu kredit dengan utang baru tadi, tetapi bekerja keras cari tambahan, gali seluruh kekuatan dan kemampuan untuk mencari pendapatan dan melunasi hutang awal, atau menjual aset yang tidak perlu, turunkan gaya hidup, mau hidup lebih sederhana maka beberapa tahun ke depan kita akan lunas dari hutang dan dapat kembali hidup normal yang sesungguhnya, hidup berdaulat istilahnya.

Daripada hidup yang seolah-oleh normal seolah-olah kaya tetapi penuh hutang dan tidak berdaulat termasuk terhadap debt collector kartu kredit.

Kalau tidak mau jalani kedua-duanya siap-siap dikejar debt collector dan masuk penjara tadi.

Itu hanya illustrasi, analogi hutang Negara, yang terbayang dibenak saya ketika mendengar penjelasan Prabowo Subianto di TV One Sabtu kemarin. Sebagai orang awam masalah ekonomi, sebagai masyarakat dan pemirsa TV, mungkin saya sebagai contoh  yang cukup terkena dampak dari talkshow itu. Dampak dalam arti lebih mengerti apa sih yang dimaksud ekonomi kerakyatan yang berdaulat yang mereka gembar gemborkan itu.

Hubungannya dengan media planning ternyata edukasi semacam itu walaupun singkat punya dampak besar juga, tentunya karena ditayangkan di TV media yang penetrasinya paling tinggi. Jadi rasanya perlu edukasi seperti itu tentunya dalam konteks yang positif mengenai program2 dari masing-masing kandidat di media massa maupun di media one to one, entahlah apakah black campaign bisa dihindari di dalamnya.

Intinya bahwa kita harus kerja keras untuk sendiri membayar utang Negara, Negara masih kaya, masih banyak potensi sebagai modal hidup dan membayar utang dan untuk itu mental bangsa yang mengarah ke materialis harus diubah, program ekonomi yang menganjurkan kedaulatan ini harus dikawal dengan program menguatkan mentalitas bangsa untuk kerja, sabar, dan bertanggung jawab, program kedisiplinan dan tidak hanya memikirkan diri sendiri termasuk tidak korupsi. Semua ini si saya setuju sekali.

By Vika 17

→ Leave a CommentCategories: Artikel Media